Choi Haneul

Tittle              : Choi Haneul

Author           : Sisi Shim (@sysie14)

Casts              : Oh Sehun, Zhang Yixing, Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Genre            : Horror

Length           : Oneshot

Rating            : G

Summary       : Oh Sehun, murid pindahan dari Sekolah Menengah Atas SOPA awalnya tidak menyetujui keputusan Ayahnya untuk pindah ke kota kecil, Boseong. Karena desakan dari Ayahnya, akhirnya ia mengalah dan menyetujui keputusan sang Ayah. Tanpa Sehun ketahui, di kelas itu terdapat kutukan dari seorang Choi Haneul.

.

.

“Hari ini kita kedatangan teman baru yang berasal dari Seoul,” ucap wali kelas Sehun kepada murid-muridnya.

Terdengar beberapa bisikan dari murid-murid itu sambil menatap wajah Sehun yang terlihat sedikit kikuk. Sehun bahkan mengenakan jaket tebal ditambah syal yang melilit di lehernya padahal cuaca di luar tidak terlalu dingin.

“Ha-halo! Oh Sehun imnida. Semoga kita bisa berteman baik!” Kata Sehun sambil membungkukkan badannya.

“Sehun, kau bisa duduk di kursi belakang yang kosong itu.” Tunjuk wali kelas itu pada sebuah kursi kosong di belakang. “Jika kau merasa panas, kau boleh melepas jaketmu.”

Sehun mengangguk sopan dan kemudian berjalan menuju mejanya. ‘Kota kecil dan sekolah kecil,’ batin Sehun sambil menaruh tasnya di atas meja.

“Halo, Sehun-ssi, senang berkenalan denganmu!” Bisik salah seorang murid yang mejanya bersebelahan dengan meja Sehun. “Namaku Park Chanyeol. Panggil saja aku Chanyeol,” tambahnya.

Sehun hanya tersenyum tipis menanggapi ‘teman baru’nya itu.

.

.

“Sehun-ssi, jadi kau berasal dari Seoul?” Tanya Lay—teman baru Sehun—dengan tatapan datar saat jam istirahat.

“Ya. Aku lahir dan besar disana.”

“Wow! Apakah Seoul menyenangkan? Ah, pasti disana berisik sekali ya, berhubung Seoul adalah kota besar.” Komentar Chanyeol, temannya yang paling tinggi.

“Dan juga di Seoul kita bisa bertemu dengan artis idola kita. Hey, apakah kau pernah bertemu dengan Girls Generations’? Aku adalah SONE, penggemar mereka.” Ucap Baekhyun, temannya yang imut dengan nada penasaran.

“Tentu saja. Aku sering menemani temanku yang merupakan fanboy mereka setiap kali mereka mengadakan perform.”

“Aaaa kau beruntung sekali, Sehun-ssi! Aku tidak pernah pergi ke Seoul padahal aku sangat ingin.” Baekhyun mengerucutkan bibirnya.

“Emm.. Tidak usah memanggilku dengan akhiran ssi. Aku rasa itu terdengar terlalu formal.” Ucap Sehun menatap ketiga teman barunya itu.

Lay, Chanyeol, dan Baekhyun saling pandang hingga akhirnya Baekhyun berkata, “baiklah. Aku memanggilmu Sehunnie saja. Itu terdengar lebih lucu dan imut.”

“Ah Sehun-ah, kenapa kau pindah kesini? Padahal kan Seoul besar dan menyenangkan. Pertama kali aku ke Seoul saat 5 tahun lalu dan waktu itu aku bahkan tidak mau pulang saat berkunjung ke Lotte World.” Kata Chanyeol heran.

“Ayahku sangat menyukai teh Bosoeng dan ia memutuskan untuk tinggal disini, kota yang tenang.”

“Wah sayang sekali! Jika aku jadi kamu, sudah pasti aku akan menolak. Disini tidak seramai Seoul. Aku terkadang ingin tinggal di Seoul.” Ucap Chanyeol sementara Sehun hanya tersenyum tipis.

“Ehem!” Lay pun berdehem sedikit keras, untuk mengalihkan perhatian mereka ke arahnya. “Oh Sehun ssi, karena aku adalah ketua kelas, sebaiknya aku harus memberitahumu suatu hal penting sekarang.”

“Kau ingin memberitahunya sekarang juga, Lay? Apa itu tidak terlalu cepat?” Bisik Chanyeol sedikit terkejut dengan membulatkan matanya tak percaya.

“Yah, Chanyeol benar, Lay. Jika kau memberitahunya sekarang, anak ini akan ketakutan sampai rumah.” Ucap Baekhyun sambil menatap Sehun yang terlihat bingung. Lay pun mengangguk yakin.

“Oh ayolah, apa kau yakin? Aku sudah cukup senang mendapatkan anak pindahan dari Seoul dan kau akan menghancurkannya.” Gerutu Chanyeol.

“Tapi aku harus melakukannya, Chanyeol-ah.”

“Jadi, tuan Lay, apa yang ingin kau katakan padaku sekarang?” Tanya Sehun penasaran.

“Hal penting itu adalah, kau tidak boleh telat masuk ke sekolah!” Ucap Chanyeol.

.

.

Sehun sedang menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Ia bingung dengan ucapan Lay tadi siang. Apa yang dimaksud Lay adalah ucapan Chanyeol tadi siang? Ah Sehun tak percaya dan sangat penasaran.

PIP.

Ponsel Sehun berdering dan membuatnya tersadar dari lamunannya. Ia segera bangkit dan membuka pesan singkat itu.

Kim Jongin

Yo Sehun-ah! Bagaimana kabarmu disana? Aku harap kau masih hidup sampai sekarang, hahaha.

 

Sehun mendengus dan tertawa kecil membaca pesan singkat sahabat sekaligus tetangganya di Seoul, Kim Jongin, sunbae-nya di SOPA. Dengan segera ia membalas pesan itu.

Oh Sehun

Tentu saja aku masih hidup. Kau tahu, Jongin-ah.. Aku sungguh tidak tahan tinggal disini.

 

Kim Jongin

Hey dude! Ini baru sehari. Bagaimana bisa kau langsung menyerah, eoh? Dasar payah :p Bagaimana dengan teman-teman barumu? Apa mereka menyenangkan? Aku berani bertaruh kalau aku 2x lebih menyenangkan dari mereka semua. Benar, ‘kan? :p

 

Oh Sehun

Hey, aku kan baru sehari tinggal disini. Aku tidak bisa memvonis mereka secepat itu. Tetapi yang jelas, kelasku terlihat horor. Sangat kecil, sedikit kotor, dan angker. Seperti sekolah di film horor.

 

Kim Jongin

Aku ingin mengingatkanmu satu hal. Kau selalu mengatakan bahwa kau tak percaya dengan yang namanya hantu tetapi sekarang lihat. Siapa yang takut, eoh? Kau termakan ucapanmu sendiri 😛

.

.

Sehun sedikit menyipitkan matanya saat mencatat apa yang Bae seonsaengnim tulis di papan tulis. Tulisan Bae seonsaengnim begitu kecil di mata Sehun, apalagi ia duduk di bangku yang paling belakang.

Hal itu membuatnya sedikit kesusahan saat menulis. Saat tinggal di Seoul, Sehun tidak pernah duduk di bangku belakang. Ia selalu duduk di bangku terdepan dan ia tidak terbiasa jika duduk di belakang.

“Yixing-ah,” bisik Sehun pada Lay yang duduk di meja sebelahnya.

“Yah, panggil aku Lay!” Balas Lay. “Ada apa?” Tanyanya.

“Boleh aku meminjam catatanmu nanti sepulang sekolah? Aku tidak bisa melihat apa yang Bae seonsaengnim tulis.” Adu Sehun. Lay mengangguk mengiyakan.

.

.

1 bulan kemudian..

Sudah sebulan ini Sehun tinggal di Boseong, menghabiskan waktunya di sana. Pertama kali ia menginjakkan kaki di Bosoeng, ia masih tidak setuju dengan keputusan ayahnya. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, ia dapat menerima keadaan. Lagipula ayahnya juga berniat akan membawa Sehun kembali ke Seoul untuk melanjutkan kuliah nanti jika ia sudah lulus sekolah.

Sudah sebulan ini juga ia sering meminjam catatan Lay karena ia sering tidak mencatat apa yang seonsaengnim tulis di papan tulis. Hal itu juga membuat ia sering ditegur oleh guru dan nilai pelajarannya sedikit menurun.

Sehun menatap teman-teman satu kelasnya yang sedang berlari mengitari lapangan. Sekarang adalah jam olahraga. Sementara teman-temannya sedang berkeringat di lapangan sana, Sehun hanya duduk di bawah pohon rindang sambil menatap mereka dengan pandangan datar.

Lay, Baekhyun, dan Chanyeol yang baru saja selesai berolahraga segera berlari menghampiri Pangeran Sehun—begitu mereka memanggilnya.

Sehun segera memberikan mereka sebotol air dingin miliknya pada mereka. Tak lupa juga Baekhyun pun berterima kasih.

“Sehun-ah, lagi-lagi setiap hari Rabu kamu tidak pernah mengikuti pelajaran olahraga. Aku pikir, alasannya karena kau anak baru dan tidak memiliki kaus olahraga. Tetapi ini sudah sebulan, rasanya tidak mungkin kalau kau masih tidak memiliknya.” Chanyeol berkomentar sambil mengelap keringat di dahinya.

“Iya, Chanyeol benar. Kenapa kau selalu membolos?” Tanya Baekhyun heran.

“Aku tidak membolos.” Elak Sehun. “Kepala sekolah sudah memberiku izin untuk tidak mengikuti pelajaran olahraga di lapangan.”

“Kenapa? Kenapa kau begitu istimewa? Atau kau sakit Sehunnie?” Tanya Baekhyun cepat.

“Umm.. begitulah.” Jawab Sehun sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “Appa-ku tidak ingin aku untuk berlari seperti tadi. Satu-satunya olahraga yang dapat aku lakukan adalah.. aku pikir catur. Olahraga yang tidak membuang energi cukup banyak.”

“Oh begitu. Kasihan sekali kau Sehunnie. Kau harus banyak beristirahat.” Baekhyun menepuk pundak Sehun dengan pelan.

Guys, siapa yang duduk di bangku depan di kelas kita?” Tanya Sehun sambil menatap satu persatu wajah mereka.

“Changmin, Junho, dan Minwoo.” Jawab Baekhyun, sambil berusaha mengingat.

“Bukan. Bukan mereka, maksudku yang duduk di kursi depan dekat jendela itu. Semenjak aku pindah kesini, tempat itu selalu kosong. Aku pikir orang yang menempatinya sedang pergi berlibur tapi ini kan sudah sebulan. Apa boleh pihak sekolah memberi izin liburan selama sebulan?” Tanya Sehun dengan bingung.

Lay, Baekhyun, dan Chanyeol hanya diam mendengar ocehan Sehun. Ia yang sadar bahwa teman-temannya tidak merespon segera menatap mereka dengan bingung.

“Ada apa? Kenapa kalian diam saja?”

“Memangnya kenapa kau ingin tahu?” Tanya Chanyeol.

“Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja. Aku ingin pindah untuk duduk di bangku depan.” Ucap Sehun.

“Tidak, tidak boleh, Sehunnie. Tempat itu sudah ditempati oleh seseorang.” Balas Baekhyun cepat.

Sehun menoleh ke Baekhyun dengan cepat. “Oh? Siapa?”

“Sudahlah, itu tidak penting untuk dibahas.” Sambung Lay. “Kenapa kau ingin pindah ke depan? Padahal kan di belakang seru. Kita bisa saling mencontek tanpa ketahuan seonsaengnim.”

“Yixing-ah,”

“Panggil aku Lay!”

“Oke, Lay. Aku tidak bisa melihat dengan baik jika di belakang. Aku ingin pindah.”

“Kau kan bisa meminjam catatanku,” balas Lay.

“Aku tidak bisa meminjam catatanmu terus menerus, Lay. Aku ingin menulis sendiri apa yang aku lihat.”

Lay, Baekhyun, dan Chanyeol pun kemudian diam hingga beberapa saat. “Tempat itu tidak kosong, Sehun-ah. Sudah ada yang menempatinya, bernama Choi Haneul.” Kata Lay akhirnya hingga membuat Sehun menghela napas dengan kecewa.

.

.

Sudah seminggu sejak Lay mengatakan bahwa bangku depan itu sudah ditempati oleh seorang murid bernama Choi Haneul dan ini sudah memasuki Minggu ke-5 bahwa murid yang bernama Haneul itu belum juga menampakkan batang hidungnya.

Kemana ia? Apa masih berlibur? Ataukah sudah pindah sekolah?

Sehun segera berdiri dari duduknya begitu melihat Yoon Sera, sekretarisnya datang dan segera menghampirinya. “Sehun-ssi? Ada apa?” Tanya Sera bingung begitu mendapati Sehun yang sedang berdiri di depan mejanya.

“Kau sekretaris kelas, ‘kan?” Sera mengangguk. “Bolehkah aku meminjam daftar absen kelas sebentar?”

Sera membuka tasnya dan memberikan apa yang Sehun minta. Sehun segera membuka buku absen itu dan matanya melihat dengan teliti pada nama murid yang berawal dari huruf C.

Cho Jaehyun.. Cho Minwoo.. Choi Ahra.. Choi Dongwoo.. Choi Minah.. Dong Shinwoo.. Dong Banghyun..

Sehun mengerutkan keningnya dan mencoba untuk melihat satu persatu nama murid yang ada di absen itu, tetapi ia tidak menemukan nama Choi Haneul sekalipun.

“Kenapa nama Choi Haneul tidak ada di absen ini?” Tanya Sehun bingung pada Sera.

“C-Choi Haneul? Si-siapa?”

“Itu, yang duduk di depan sana!” Tunjuk Sehun pada bangku kosong di depan. Seketika mata Sera membesar.

“Kau sudah gila Oh Sehun! Jangan menakutiku dan mempermainkan aku!” Bentak Sera kasar sambil menarik buku absen dari tangan Sehun.

Sehun terkejut dengan bentakan Sera yang tiba-tiba itu. Hey, kenapa gadis itu marah? Sehun kan bertanya dengan baik-baik.

“Sehun-ah, ikut aku!” Lay segera menarik kerah seragam Sehun menuju atap sekolah.

“Jangan sebut namanya di kelas kita!” Ucap Lay datar namun terdengar dingin setelah mereka sampai dan melepas kerah seragam Sehun.

“Maksudmu, Choi Haneul?” Tanya Sehun bingung.

“Jangan coba-coba kau sebut nama itu lagi di kelas dan jangan pernah untuk duduk di bangku kosong itu kalau kau masih ingin hidup!” Ancam Lay dengan penuh penekanan.

“Ke-kenapa?”

“Tidak usah banyak tanya. Jam pelajaran hampir dimulai lebih baik kita segera kembali ke kelas. Lagipula kau adalah anak kota yang berasal dari Seoul. Kau tidak akan mempercayai kata-kataku.” Jelas Lay sembari pergi meninggalkan Sehun sendiri.

“Ada apa dengannya?” Gumam Sehun tak mengerti.

.

.

Sehun hanya menatap Bae seonsaengnim menulis di papan tulis. Tulisan itu begitu kecil, membuat matanya sakit. Ia menoleh ke arah Lay yang sedang sibuk mencatat, begitu juga dengan Baekhyun dan Chanyeol.

Guru yang berusia sekitar 40 tahunan itu menoleh dan mendapati Sehun yang sedang menatap papan tulis dengan pandangan kosong.

“Oh Sehun! Kau tidak menulis lagi?!” Tanyanya dengan nada tinggi membuat Sehun terlonjak dari pikirannya.

“Ma-maaf, Seonsaengnim. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Bisakah aku duduk di bangku depan agar bisa melihat dengan jelas?” Pinta Sehun sambil melirik ke arah Lay dengan takut-takut.

Guru itu terdiam sejenak dan menatap jam dinding di kelas lalu berkata, “sebentar lagi jam pelajaran saya akan habis. Kita lanjutkan besok lusa. Selamat siang anak-anak!” Ucap Bae seonsaengnim lalu pergi meninggalkan kelas.

Lay menatap mata Sehun dengan pandangan datar lalu kembali melanjutkan acara menulisnya. Sehun juga melihat seluruh teman-temannya masih sibuk menulis.

“Baekhyun-ah..” Bisik Sehun pada Baekhyun yang duduk di depannya.

“Hmm, wwae?” Tanya Baekhyun tanpa membalikkan tubuhnya untuk sekedar menatap wajah Sehun.

“Sebenarnya.. apa murid yang bernama Choi Haneul itu ada?” Sehun menanyakan apa yang menjadi beban pikirannya selama ini. Baekhyun hanya diam, tidak menjawab atau sekedar membalikkan tubuhnya.

“Hey Baekh—“ Sebelum Sehun selesai berkata, Baekhyun tiba-tiba saja jatuh pingsan.

.

.

Baekhyun mengerjapkan matanya dan membukanya perlahan. Ia melihat teman-teman sekelasnya yang bernapas lega setelah melihatnya bangun.

“Syukurlah kau sudah bangun Baeki. Ayo kita ke UKS!” Ajak Chanyeol.

“Uh, apa yang terjadi?” Baekhyun memegang kepalanya.

“Kau tiba-tiba saja jatuh pingsan, tapi hanya sebentar sekitar 2 menitan. Apa yang terjadi?” Tanya Chanyeol khawatir. Baekhyun mengangkat wajahnya dan melihat Sehun yang berjongkok di depannya.

“Baekhyun-ah, apa kau sakit?” Tanyanya. Baekhyun hanya diam dan membuang pandangan ke arah lain.

“Yah, kau kenapa? Apa kau marah padaku?” Tanya Sehun bingung.

“Lay, apakah kau sudah mengatakan mengenai hal itu padanya?” Tanya Sera pada Lay, tanpa membalas perkataan Sehun. Lay hanya diam dan menggelengkan kepalanya. “Ku harap kau segera memberitahunya sebelum ia melakukan hal bodoh. Kau adalah ketua kelas,” sambung Sera.

“Sehun-ssi, bisa kau ikut aku?” Tanya Lay akhirnya.

.

.

Sehun menatap Lay dengan tatapan bingung. Ia meminum minuman kalengnya, menunggu Lay untuk berbicara tetapi remaja berdarah Cina itu tetap diam saja.

“Sehun-ah,” ucap Lay akhirnya. “Aku mendengar apa yang kau katakan pada Baekhyun sebelum ia pingsan tadi. Choi Haneul.. sudah lama mati.” Mata Sehun membesar mendengar pernyataan Lay.

“Ia meninggal di tahun 1987. Jangan pernah sekali kau duduk di kursi depan karena itu adalah kursinya!”

“Ta-tapi.. Bukannya kau bilang ia sudah lama mati? Lalu apa yang kau takutkan?”

“Ia memang sudah lama mati, tapi arwahnya masih disini.” Selesai Lay berkata, semilir angin datang dan menerbangkan beberapa helai rambut Sehun.

“Apa kau percaya dengan yang namanya hantu?” Balas Sehun. “Aku tidak percaya dengan yang namanya hantu.” Sambungnya pelan.

“Terserahlah. Jika kau berani melanggar apa yang aku katakan, bersiap-siaplah kau akan memiliki malam yang menakutkan sampai kau tidak tahan dan memutuskan untuk bunuh diri.”

“Y-ya! Itu tidak lucu sama sekali, Lay. Hey ini 2014.”

“Aku sedang tidak bercanda, Sehun-ah. Tolong percayalah padaku! Ini demi keselamatanmu dan kita. Jika arwah Choi Haneul sedang marah, kita semua akan mengalami sial.”

Glek. Sehun menelan dengan kasar salivanya.

.

.

“Aku sedang tidak bercanda, Sehun-ah. Tolong percayalah padaku! Ini demi keselamatanmu dan kita. Jika arwah Choi Haneul sedang marah, kita semua akan mengalami sial.”

Ucapan Lay siang itu terus terngiang di kepala Sehun. Apa maksud Lay mengatakan seperti itu? Jadi maksudnya, itu adalah kursi hantu dan orang lain tidak boleh duduk di kursi itu? Lalu kenapa tidak dipindahkan ke gudang saja sekalian?

Ia berjalan cepat menuju ruang kelasnya. Karena buku catatan miliknya tertinggal di laci meja, ia harus kembali ke sekolah untuk mengambilnya. Sehun menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 3 sore. Ia harus segera keluar sebelum appa-nya menjemputnya.

Ia mendengar suara kapur yang ditulis di papan tulis. Begitu kakinya melangkah masuk ke kelas, ia melihat kapur yang tiba-tiba saja terjatuh dan tidak melihat siapapun di dalam. Hanya terdapat sebuah tulisan Choi Haneul di papan tulis itu.

Ia menahan napas dan berjalan cepat menuju mejanya. Ia berpikir mungkin saja yang menulis nama itu adalah orang iseng. Ckck, lucu sekali jika memang benar-benar hantu Choi Haneul yang menulis. Sehun pun berusaha bersikap tenang.

Ia menunduk dan mengambil bukunya. Begitu ia mendongak dan menatap papan tulis, papan tulis itu bersih. Tulisan yang tertera sebelumnya menghilang membuat Sehun kembali menegang. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Mungkin saja ada seseorang yang menghapusnya tetapi ia tidak menemukan siapapun kecuali ia seorang dan mungkin.. Choi Haneul juga berada di kelas bersamanya?

Drrrt..

Sehun terlonjak kaget begitu merasakan ponselnya bergetar di sakunya. Ia melihat layar ponselnya sebentar dan menjawab panggilan telepon.

“A-aku di kelas, appa…. I-iya, aku segera keluar.” Sehun kembali memasukkan ponselnya.

Tepat saat itu ia melihat kursi milik Choi Haneul terjatuh secara tiba-tiba. Sehun pun segera berlari meninggalkan kelas. Ia juga melihat beberapa kursi lainnya di kelas sebelah terjatuh secara tiba-tiba. Bukan hanya dua kelas itu saja, mungkin saja semua kelas karena ia mendengar beberapa benda keras yang terjatuh.

Apakah ini nyata? Detak jantung Sehun semakin berdetak tak terkontrol. Ia berlari secepat mungkin yang ia bisa menuju mobil appa-nya yang terparkir di depan sekolah.

Dadanya naik turun, ia mengatur napasnya begitu sampai di dekat mobil. Sehun dapat merasakan bahwa oksigen di sekitarnya seolah-olah menghilang. Ayahnya yang duduk di kursi kemudi segera keluar dan membantu Sehun untuk masuk ke mobil.

Ia dengan cepat membuka tas sekolah Sehun untuk mencari sesuatu. Begitu ia mendapatkanya, ia segera mengocok cepat benda itu dan memasukkannya ke mulut Sehun. Benda itu adalah inhaler, sebuah alat bantu pernapasan.

“Sehun-ah, kenapa kau tadi berlari?” Tanya Ayahnya dengan panik. “Jangan seperti itu lagi! Asmamu akan kambuh.”

Sehun hanya diam dan bernapas melalui mulut menggunakan inhaler tersebut. Pikirannya melayang, memikirkan kejadian yang baru saja ia alami. Jika saja appa-nya tidak ada, mungkin saja ia akan mati karena kehabisan napas.

.

.

Sehun bersumpah bahwa sejak kejadian papan tulis di kelas waktu itu, ia sering merasakan kehadiran seseorang yang tak dapat ia lihat. Hantukah? Entahlah, Sehun juga tak tahu. Bukannya ia tidak percaya dengan yang namanya hantu?

Sehun pernah mendengar suara di atas meja kosong itu, meja milik Choi Haneul maksudnya. Saat ia mengumpulkan kertas ujian, ia mendengar suara seseorang yang sedang menulis. Tak jarang ia sering menemukan tulisan Choi Haneul di papan tulis.

Sehun sedikit takut tetapi ia tetap bersikukuh dan tidak percaya dengan yang namanya hantu. Walau Lay sering menceritakan tentang penampakan di kelas mereka, Sehun hanya terkekeh geli, seolah-olah Lay sedang menceritakan sebuah kisah lucu.

“Yixing-ah, apa kau percaya dengan yang namanya hantu?” Sehun sering menanyakan hal itu pada Lay, mungkin hampir setiap hari selama 4 hari ini. Dan jawaban Lay pun selalu sama, “aku tak tahu.”

Pagi itu Sehun datang ke sekolah terlalu awal. Sekolah masih dalam keadaan sepi dan ia adalah orang pertama yang datang ke kelas. Ia menatap kursi Choi Haneul itu. Ada rasa penasaran di hatinya apabila ia mendudukinya. Apakah akan terjadi sesuatu yang buruk seperti yang Lay ucapkan?

‘Apa benar ini kursi terkutuk?’ batin Sehun. ‘Apa aku perlu mendudukinya dulu?’

Sehun menatap kursi itu untuk beberapa saat hingga akhirnya ia tersadar bahwa ia sudah menduduki kursi milik Choi Haneul. Sehun terkejut dan segera berdiri dari duduknya.

Ia menatap kursi itu intens, mengantisipasi jika benar-benar terjadi suatu hal yang buruk padanya. Tiga menit berlalu dan tidak terjadi apa-apa. Sehun menghela napas lega dan memandang kursi itu dengan tatapan meremehkan.

“Yang benar saja?! Bahkan rasanya sama saja seperti kursi biasa. Aku rasa penduduk sekolah ini yang terlalu melebih-lebihkan mitos ini.” Desis Sehun. “Ah, kalau Lay tahu aku duduk disini, apakah ia akan marah?”

Ia mengambil spidol di dalam tasnya dan menuliskan nama Oh Sehun di atas kursi itu, sebagai tanda bahwa seseorang yang bernama Sehun pernah menduduki kursi itu. Sehun mendecak dan berjalan menuju mejanya. Ia duduk dan memainkan ponselnya dengan rasa bosan.

Sehun kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantung celananya. Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9. Sehun melotot tak percaya. Sekolah dimulai pukul 7.15 sedangkan ini sudah pukul 9.

Ia kembali mengambil ponselnya dan jam ponsel juga menunjukkan waktu yang sama. Sehun mulai berpikir bahwa sekolah diliburkan tetapi ia sedikit ragu. Jika sekolah memang benar-benar diliburkan, kenapa kelasnya tidak terkunci tadi pagi?

Sehun segera menghubungi Lay, sang Ketua Kelas.

“Yixing-ah!” Ucap Sehun begitu panggilannya terjawab. “Apa sekolah diliburkan hari ini?…. Yang benar saja?! Ini sudah jam 9 dan kalian belum datang. Apa jam sekolah diundurkan?…. Tidak? Lalu kenapa kau belum datang?…. Apa? Ini belum jam 9? Lalu sekarang jam berapa?……”

Sehun terdiam begitu mendengar jawaban Lay. “Sekarang masih jam 6, Sehun-ah. Kau ini mengigau, ya?”

Angin kencang pun datang secara tiba-tiba hingga membuat jendela tertutup dan menimbulkan suara keras. Sehun segera merunduk dan bersembunyi di bawah meja, menunggu hingga angin itu reda.

“Yah Sehun-ah, kau masih disana?” Sehun mendengar suara Lay di seberang sana. Belum sempat ia menjawab, ponselnya terlempar dengan sendirinya; membentur dinding kelas hingga baterai ponsel itu terlepas dan mati.

Sehun segera berdiri dan menyadari bahwa kelas begitu gelap. Malam sudah tiba. Sehun bingung dan takut. Beberapa menit yang lalu, hari masih pagi dan bagaimana bisa malam tiba begitu cepat?

Keringat mulai keluar dari dahinya dan tangannya pun begitu dingin. Lampu kelas pun menyala dan Sehun dapat melihat seorang gadis mengenakan seragam sekolah yang sama seperti dirinya sedang duduk di kursi milik Choi Haneul. Gadis itu duduk membelakanginya. Sehun dapat melihat bahwa penampilan gadis itu tidak terawat. Rambut yang kusut dan seragam yang kusam, juga—

Tunggu! Choi Haneul? Apa gadis itu Choi Haneul?

Sehun menahan napas saat melihat gadis itu memutar kepalanya secara perlahan. Tepat saat matanya terbuka dan menatap Sehun, lampu kembali mati dan meninggalkan kegelapan.

Sehun mundur secara perlahan hingga ia membentur dinding. Ia takut jika gadis itu datang secara tiba-tiba seperti film-film horor yang sering ia tonton di bioskop sewaktu masih tinggal di Seoul dulu.

“Hah.. hah.. hah.. hah..” Sehun mengatur napasnya yang mulai tak terkontrol.

Ia takut jika asma akutnya akan kambuh dan tak ada yang dapat menolongnya. Apakah ia akan mati? Apakah yang Lay ucapkan benar? Jika iya, Sehun benar-benar menyesal dan takut, tak tahu harus berbuat apa.

Lampu kembali menyala dan Sehun dapat melihat bahwa gadis itu berdiri di depannya. Sehun terbatuk saat tangan gadis misterius itu mencekik lehernya dengan sangat kuat, membuat wajahnya pucat.

“Mati..” Bisik gadis itu sambil mengangkat wajahnya dan dapat Sehun lihat bahwa ia tidak memiliki pupil mata.

Sehun benar-benar tidak dapat bernapas hingga semuanya berubah menjadi gelap.

.

.

Sehun membuka matanya perlahan dan mendapati appa-nya yang tengah menahan air mata. Begitu ia melihat Sehun terbangun, ia segera memeluk anak satu-satunya itu dengan sangat erat.

Sehun menyadari bahwa ia sedang menggunakan masker oksigen dan ia berada di rumah sakit. “Appa..” Sehun terisak pelan mengingat kejadian yang baru saja terjadi padanya. Ia pikir bahwa ia akan mati sebelumnya lalu bagaimana ia bisa berada di rumah sakit?

“Kau membuat appa takut, Sehun-ah.” Bisik appa-nya pelan. “Temanmu bilang bahwa kau tertidur di kelas. Saat terbangun, kau tiba-tiba saja tidak bisa bernapas dan jatuh pingsan.” Jelas appa membuat Sehun melotot tak percaya.

Lay, Baekhyun, dan Chanyeol berangkat sekolah bersama-sama karena mereka tinggal di perumahan yang sama. Begitu mereka memasuki kelas, ia melihat Sehun yang tengah tertidur di mejanya.

 

Mereka bertiga berjalan mendekat dan tiba-tiba saja Sehun terbangun sambil memegangi dadanya. Matanya masih tertutup dan ia berusaha menarik napas yang sedalam-dalamnya. Trio sahabat itu segera berlari menghampirinya dan mengguncang tubuhnya.

 

“Sehun-ah! Sehun-ah!” Sehun membuka matanya dan segera menunjuk tas miliknya.

 

“Kau kenapa Sehun-ah?!” Tanya mereka panik sekaligus bingung. Sehun tetap menunjuk tasnya. Ia ingin sekali berbicara tetapi ia tidak kuat.

 

Chanyeol yang peka segera membuka tas Sehun dengan tergesa-gesa dan melihat sebuah inhaler di dalamnya. “Kau butuh ini?” Tanyanya, sementara Sehun menganggukan kepalanya.

 

“I-ini.” Sehun dengan segera menggunakan alat itu dan bernapas lega walau masih tersengal-sengal.

 

“Kau baik-baik saja, Sehunnie?” Tanya Baekhyun khawatir. Sehun mengangguk lemah dan sedetik kemudian ia jatuh pingsan.

.

.

“Apa kabarmu Pangeran? Aku merindukanmu.” Ucap Baekhyun sambil memeluk Sehun. Mereka—Lay, Baekhyun, dan Chanyeol— memutuskan untuk menjenguk sahabat baru mereka setelah pulang sekolah.

“Aku merasa baik-baik saja sekarang.” Jawab Sehun sambil tersenyum. Ia sudah diperbolehkan untuk melepas masker oksigen sehingga membuatnya bisa berbicara dengan nyaman.

“Kau membuat kami jantungan begitu melihatmu tidak sadarkan diri seperti itu. Ternyata ini ya alasanmu tidak mengikuti pelajaran olahraga.” Kata Chanyeol mengerti sambil menganggukan kepalanya.

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu sebelumnya?” Tanya Baekhyun penasaran.

“Aku tidak tahu. Aku merasa mengantuk dan tiba-tiba saja asmaku kambuh.” Ucap Sehun berbohong. Ia tidak mungkin mengaku bahwa ia duduk di kursi milik Choi Haneul dan tiba-tiba saja Choi Haneul datang lalu mencekiknya.

“Kau harus banyak beristirahat, Sehunnie.”

.

.

Sepulang trio sahabat itu dari menjenguk Sehun, esok paginya mereka digegerkan oleh berita mengenai Sehun yang ditemukan tewas gantung diri di gudang rumah sakit. Sehun menggunakan tali tambang untuk menggantung dirinya dan menggunakan sebuah kursi kayu sebagai pijakannya. Tanpa ada yang menyadari, kursi kayu itu bertuliskan Choi Haneul.

Sementara Baekhyun dan Chanyeol yang menangisi Sehun di pemakamannya, Lay hanya berdiam diri menatap tempat peristirahatan Sehun dengan tatapan datar.

“Ternyata ibu dan anak sama saja. 17 tahun lalu, ibunya meninggal dan sekarang anaknya yang menyusul. Ckck, menyedihkan.” Gumam Lay.

“Lay-yah, apakah ini gara-gara kutukan itu?” Tanya Baekhyun dengan mata penuh air mata. “Jika iya, maka kita semua akan mati. Oh Sehun sudah membuat arwah Choi Haneul marah. Kita akan mati satu per satu.”

.

.

 

“Yixing-ah, apa kau percaya dengan yang namanya hantu?”

 

“Kau mengatakan bahwa kau tidak percaya dengan yang namanya hantu, tetapi kenapa kau terus menanyakan hal itu padaku?”

 

“Aku.. hanya penasaran dengan apa yang hantu inginkan dari manusia. Kenapa mereka menakuti manusia?”

 

“Entahlah, aku juga tak tahu.”

 

Appa-ku mengatakan bahwa 17 tahun lalu eomma-ku bekerja di sekolah ini sebagai guru. Dan.. seminggu kemudian eomma meninggal karena melahirkanku. Aku penasaran, apakah ibu tahu mitos kursi itu? Ibuku orang yang kuat tetapi sayang ia meninggal hanya karena melahirkanku.”

 

Eomma-mu meninggal karena pernah menduduki kursi itu, bahkan mencoret kursi itu dengan namanya.”

 

“E-eh?! A-apa maksudmu?!”

 

“Kamu mengulang kesalahan yang pernah Ibumu lakukan 17 tahun lalu, Sehun-ah. Bersiap-siaplah!”

 

.

.

Dan pada akhirnya, semua teman sekelas Sehun ditemukan tewas seketika di bis saat pergi berlibur ke pantai dengan tulisan Choi Haneul di kaca bis.

Advertisements

3 thoughts on “Choi Haneul

  1. Lian

    Hey Chingu,, terinspirasi dari anime atau memang kamunya yang buat siihh??
    Baca ini berasa nonton Anime Another,, serem-serem gimana gitu.. >//<

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s